Selasa, 29 Oktober 2013

TENTANG PRIA




Permalink gambar yang terpasangTidak mudah menjadi seorang pria.

Aku melihat seorang pria hebat seperti ayahku. Memandangnya yang begitu lelah saat pulang bekerja. Ini hanya pandanganku tapi beliau tak pernah menunjukannya. Beliau yang bekerja penuh semangat demi menyenangkan istrinya, ibuku. Beliau yang selalu mampu penuhi pintaku bahkan saat keinginanku sangat berlebihan. Semua dilakukannya demi melihat segaris senyum di wajah kami, keluarganya. Demi masakan terenak yang akan disajikan ibu. Demi segelas teh hangat pelepas dahaga dengan rona senyum diwajah kami. Ayah, pernahkah aku bilang kau pahlawanku ? pahlawan kami, pelindung kami. Tak pernah terdengar keluhmu ditelingaku, tak terhitung banyaknya keluh yang aku curahkan padamu.

Ayah, pernahkah aku bilang kau pahlawanku ?


Lagi aku temukan pria terhebat, kakakku. Pria muda dengan segudang pesona kebaikan hati. Terpancar jelas saat ia tersenyum. Diam-diam aku mengagumi cara ia melindungi aku, adiknya. Pelindung aku dan ibu disaat ayah mencari rizki. Dia bahkan bisa lebih tersakiti saat aku merasa sakit hati. Seperti ayah, ia juga selalu berusaha membahagiakan aku dan ibu. Kakak, pentingkah untukmu jika aku bilang engkau yang terhebat ? tak pernah sedetik pun engkau biarkan aku dalam rasa gundah. Mudah sekali membuatmu tersenyum hanya dengan melihat aku tersenyum.

Kakak, pentingkah untukmu jika aku bilang engkau yang terhebat ?

Sampai suatu hari aku temukan pria terhebat selanjutnya. Pria yang akan menemaniku menapaki  jalan sisa hidup. Ia akan menjadi pria terhebatku berikutnya dan selamanya.

Dari segalanya, Ayah dan Kakakku tetap yang juara.

Ditulis penuh cinta, oleh Zainab An Saly

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Followers